Bappeda Kabupaten Sanggau Menyelenggarakan Seminar Akhir Penyusunan Kajian Terhadap Angka Putus Sekolah di Kabupaten Sanggau

Bappeda Kabupaten Sanggau menggelar seminar akhir Penyusunan Kajian Terhadap Angka Putus Sekolah yang disusun oleh tim peneliti dari CV. Angan Karya Mandiri pada hari Rabu, tanggal 18 November 2020. Kegiatan yang bertempat di Ruang Rapat Lantai II Bappeda Kab. Sanggau ini merupakan lanjutan dari FGD yang telah dilaksanakan sebelumnya pada tanggal 15 Oktober 2020. Hadir pada acara ini Kepala Bappeda Kabupaten Sanggau Ir. Yulia Theresia, Sekretaris Bappeda Shopiar Juliansyah, SE, MM Plt Kepala Bidang PEP bappeda Yulius Elto, S.Sos, M.A.P, Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi Litbang Bappeda Agun Sugiarto S, AP, Kepala Bidang Perencanaan Sosbud Bappeda Henny Lorryda Yuliana AS, S.AP, M.Si, dan Kepala Bidang PIPW Bappeda M. Imran, S.T serta tamu undangan perwakilan dari perangkat daerah.

Acara dimulai dengan pembukaan dari Kepala Bappeda dan dilanjutkan langsung paparan dari ketua tim peneliti Thadeus Yus, SH, MH Paparan dimulai dengan menampilkan data angka putus sekolah berdasarkan Neraca pendidikan Daerah kemudian penjabaran penyebab anak putus sekolah yang telah di rangkum peneliti berdasarkan hasil kegiatan survei langsung ke lapangan. Di dalam slide juga menjelaskan dampak pandemi COVID-19 Terhadap Proses Belajar Mengajar.

Selanjutnya sesi diskusi tanya jawab dari para tamu undangan yang telah hadir. Sesi pertama masukan dan saran dari Sekretaris Kominfo Ade Wawan Januardi, S.AP, M.Dev dimana beliau ingin memperjelas arti dari Angka Putus Sekolah dan anak yang berhenti sekolah Karena APS berupa persen. Sedangkan anak berhenti sekolah merupakan jumlah anak yang berhenti sekolah. Selanjutnya masukan dari Kepala DinsosP3AKB, Dinkes, Dikbud dan LSM Citra Hanura.

Diskusi dan tanya jawab dilanjutkan ke sesi kedua dimana ada masukan dari Kabid Perencanaan Ekonomi Litbang, Sekretaris Bappeda, Plt. Kabid PEP dan Kabid PIPW.

“Saran untuk penyebab dibagi menjadi 2 faktor Internal dan eksternal. Contoh letak geografis pemukiman dan jarak sekolah dan keadaan sekolah yang hanya 2 ruangan. Saran selanjutnya strategi untuk menanggulanginya yang pertama naikkan dana BOS yang dialokasikan kepada daerah yang paling banyak angka putus sekolah. Yang kedua terkait jumlah guru yang kurang, bisa dengan metode guru bergerak. Yang ketiga penambahan sarpras. Yang keempat penerapan sekolah satu atap. Yang kelima SD mini. Yang keenam Sosialisasi berjenjang dari Desa ke Kecamatan dan seterusnya. Pemda harus mengadakan tracking terhadap anak usia sekolah yang tidak sekolah dimana yg paling banyak maka bisa diintervensi lokus dan fokus” Masukan dari Sekretaris Bappeda Kab. Sanggau.

Anda mungkin juga berminat Berita Lainnya dari penulis

Leave a Reply